Selasa, 24 November 2009

PSIH VII (Kehati hatian Para Sahabat)

PSIH 7 (Selesai) : Kehati-hatian Para Sahabat
Monday, November 23, 2009 9:16 AM
From:
"syaikhu_pdklapa"
Add sender to Contacts
To:
daarut-tauhiid@yahoogroups.com


Pengantar Studi Ilmu Hadis 7 (Selesai)

Ini adalah akhir dari seri pengantar studi ilmu hadis, sekelumit ilmu
yang dikutip dari buku Pengantar Studi Ilmu Hadits, asy-Syaikh Manna
Khalil al-Qaththan rahimahullah. Untuk pemahaman lebih lanjut dan
menyeluruh, silahkan langsung membaca bukunya.

Para sahabat khawatir dengan banyaknya riwayat akan tergelincir pada
kesalahan dan kelalaian, dan menyebabkan kebohongan terhadap Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam dan akan mendapatkan ancaman yang sangat
keras. Namun tidak berarti bahwa kaum muslimin harus seperti sahabat
ketika membawakan hadis. Karena para ulama ahli hadis dari masa ke masa
telah memberikan contoh yang memudahkan kita dalam membawakan hadis.
Namun, ada baiknya kita merenungi kehati-hatian para sahabat dalam
membawakan hadis, agar kita bisa memberikan kedudukan yang layak pada
sunnah-sunnah Rasul yang mulia.

Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata, "Abu Bakar adalah orang yang paling
berhati-hati dalam menerima hadis. Diriwayatkan oleh Ibnu Syihab dari
Qubaishah bin Dzu`aib bahwasanya seorang nenek datang kepada Abu Bakar
agar mendapatkan warisan. Maka dia berkata, 'Aku tidak mendapatkan
bagianmu sedikitpun dalam al-Quran, dan aku tidak pernah mengetahui
Rasulullah menyebutkan hal itu.' Kemudian ia menanyakan kepada para
sahabat. Mughirah berkata, 'Aku mendengar Rasulullah memberikan bagian
seperenam,' Abu Bakar bertanya, 'Apakah ada orang lain bersamamu?' Lalu
Muhammad bin Maslamah bersaksi seperti itu. Kemudian Abu Bakar
menjalankan dan memberikan bagian kepada nenek tersebut.

Adalah Umar bin Khattab menolak dan mengingkari terhadap orang yang
banyak meriwayatkan hadis. Dikatakan kepada Abu Hurairah -sahabat yang
terbanyak meriwayatkan hadis-, "Apakah anda meriwayatkan hadis pada masa
Umar seperti demikian?" Dia berkata, "Sekiranya aku meriwayatkan hadis
pada masa Umar sebagaimana aku menceritakan hadis pada kalian sekarang
ini, tentu dia akan memukulku dengan cambukan"
(Tadzkirah al-Huffazh karya adz-Dzahabi)

Dari Abu Sa'id al-Khudri ia berkata, "Aku berada dalam salah satu
majelis kaum Anshar. Tiba-tiba datang Abu Musa seakan-akan dia sedang
ketakutan. Lalu berkata, 'Aku telah meminta izin bertamu kepada Umar
sebanyak tiga kali tapi tidak dijawab maka aku kembali. Lalu aku kembali
lagi dan dia berkata, 'Apa yang menghalangimu? ' Maka aku menjawab, 'Aku
telah meminta izin bertamu sebanyak 3 kali tapi tidak dijawab, maka aku
kembali. Dan Rasulullah telah bersabda, 'Apabila salah satu di antara
kalian minta izin 3 kali dan tidak diizinkan maka kembalilah'.

Umar berkata, 'Demi Allah kamu harus memberikan kesaksian apakah di
antara kalian ada yang mendengar dari Rasulullah?' Ubay bin Ka`ab
berkata, 'Demi Allah, tidak ada yang membuktikannya bersamamu melainkan
seorang yang paling muda usianya,' dan akulah (Abu Sa'id) yang termuda
di situ, maka aku pun ikut bersamanya, lalu aku beritahukan kepada Umar
bahwa memang Nabi berkata demikian. Maka Umar pun berkata kepada Abu
Musa, 'Aku bukanlah menuduhmu, akan tetapi kekhawatiranku kepada orang
akan berdusta atas nama Rasulullah' "
(HR. Bukhari, Muslim, dan al-Imam Malik)

Sebagian sahabat setelah meriwayatkan hadis banyak yang mengatakan
dengan kalimat: "atau yang seperti ini," atau, "sebagaimana sabda
beliau,"(aw kama qoola..) atau "serupa dengan itu." Mereka sering kali
gemetar dan rona wajah mereka berubah ketika meriwayatkan sesuatu dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Dari Amru bin Maimun, ia berkata, "Aku selalu menghadiri majelis Ibnu
Mas'ud pada hari Kamis malam dan tidak pernah tidak datang. Aku belum
pernah mendengarnya mengatakan sekalipun, 'Rasulullah bersabda...' . Dan
suatu malam ia berkata, 'Rasulullah bersabda...' Maka dia lalu
menundukkan (kepalanya). Maka aku melihat kepadanya, dia berdiri sambil
menguraikan sarung bajunya, matanya basah, dan urat lehernya mengembang,
lalu dia berkata, "atau kurang dari itu, atau lebih dari itu, atau
mendekati itu, atau mirip dengannya."
(Sunan Ibnu Majah, tahqiq Muhammad Fu'ad Abdul Baqi)

Demikian akhir dari seri ini, semoga dapat menambah pemahaman dan cinta
kita terhadap hadis-hadis Muhammad bin Abdillah shallallahu 'alaihi
wasallam, dan semoga kita termasuk orang-orang yang terus istiqamah
dalam mengkaji dan mengamalkannya.

Wallahu a'lam

PSIH VI (Hadist Matruk dan Hadist Munkar)

PSIH 6: Hadis Matruk dan Hadis Munkar?
Wednesday, November 18, 2009 11:25 PM
From:
"syaikhu_pdklapa"
Add sender to Contacts
To:
daarut-tauhiid@yahoogroups.com


Pengantar Studi Ilmu Hadis 6:

Hadis matruk dan hadis munkar termasuk golongan hadis yang parah
kedhaifannya, sehingga ulama bersepakat tentang tidak bolehnya kedua
golongan hadis tersebut dipakai sebagai hujjah. Berikut ini penjelasan
singkatnya.

1. Hadis matruk

Maksudnya adalah hadis yang di dalam sanadnya terdapat perawi yang
dituduh berdusta. Bedanya dengan maudhu` yaitu, maudhu' perawinya telah
jelas berdusta, sedangkan matruk perawinya dituduh berdusta.

Hadis matruk disebut juga hadis semipalsu.

Tuduhan berdusta bisa disebabkan oleh salah satu dari 2 hal berikut

a. hadis tersebut tidak diriwayatkan kecuali melalui jalur dia saja, dan
bertentangan dengan kaidah-kaidah umum yang digali oleh para ulama dari
nash-nash syar'i

b. perawi tersebut dikenal berdusta dalam perkataan biasa, tetapi tidak
diketahui kedustaannya dalam meriwayatkan hadis.

2. Hadis munkar

Yaitu hadis yang kecacatan perawinya disebabkan oleh banyaknya
kesalahan, sering lupa, atau kefasikan, maka dinamakan hadis munkar.

Lebih jauh lagi, para ulama mendefinisikan hadis munkar dengan 2
pengertian sebagai berikut

a. hadis dengan perawi tunggal yang banyak kesalahannya atau
kelalaiannya, atau nampak kefasikannya atau lemah ketsiqahannya.

b. hadis dengan perawi yang lemah dan bertentangan dengan riwayat dari
perawi yang tsiqah.

Wallahu a'lam

PSIH V (Hadist Maudhu)

] PSIH 5: Hadis Maudhu'?
Monday, November 16, 2009 12:48 AM
From:
"syaikhu_pdklapa"
Add sender to Contacts
To:
daarut-tauhiid@yahoogroups.com


Pengantar Studi Ilmu Hadis 5:

Hadis maudhu' maknanya adalah sesuatu yang diciptakan dan dibuat-buat
lalu dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam secara
dusta. Disebut juga hadis palsu.

Ini adalah yang paling buruk dan jelek di antara hadis-hadis dhaif.
Bahkan sebagian ulama mengeluarkannya dari kelompok hadis dhaif, dan
membuatkan kelompok sendiri, hadis maudhu'.

Para ulama sepakat bahwasannya haram hukumnya meriwayatkan hadis dhaif
yang maudhu' bila mengetahui kepalsuannya, kecuali disertai dengan
penjelasan akan ke-maudhu'-annya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu
'alaihi wasallam

"Barangsiapa menceritakan hadis dariku sedangkan dia mengetahui bahwa
itu dusta, maka dia termasuk pendusta" (HR. Muslim, shahih)

Dari Abu Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallam: "Barangsiapa yang berdusta atasku (yakni atas
namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di
neraka." (HR. al-Bukhari dan Muslim, shahih)

Di antara motivasi yang mendorong terjadinya hadis maudhu' adalah

1. Membela mazhab/kelompoknya

2. Mendekatkan diri pada penguasa

3. Cerita dan nasehat
Para tukang cerita ingin menarik perhatian orang awam untuk mengajak
mereka kepada kebaikan dan menghindari kemungkaran. Padahal salah satu
kaidah fiqh yang terkenal adalah "al-ghoyah la tubarrirul washilah",
tujuan tidak menghalalkan (segala) cara.

Contoh hadis maudhu' adalah, "Barangsiapa yang mengucapkan kalimat laa
ilaaha illa Allah, maka Allah menciptakan dari setiap kata itu seekor
burung yang paruhnya dari emas dan bulunya dari marjan."

Di antara perawi hadis maudhu' adalah Maisarah bin Abdu Rabbih. Ketika
ditanya, "Dari mana Anda dapatkan hadis-hadis ini?" Dia menjawab, "Aku
memalsukannya untuk menggembirakan orang."

Hadis maudhu' bisa saja ikut terbawa dalam kitab-kitab ulama yang
dikenal keshalehannya karena ketidaktahuan mereka, atau mereka belum
sempat memeriksa hadis tersebut ketika mengutipnya.

Wallahu a'lam

[Diringkas dari "Pengantar Studi Ilmu Hadis", Manna Khalil al-Qaththan,
Pustaka al-Kautsar]

------------ ---------

Sssst....
Adapun yang berikut, bukanlah hadis maudhu', melainkan shahih :)

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu 'Abbas
Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Tidak ada hari di mana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh
Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan
Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi
sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali
orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak
kembali dengan sesuatu apapun".

Klo pake tanggalan republika, 2 hari lagi (tgl 18 nov) mulai, lho...

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan, "Sepuluh hari
(pertama) Dzul Hijjah lebih utama daripada sepuluh hari terakhir di
bulan Ramadhan. Dan sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan lebih
utama dari sepuluh malam (pertama) bulan Dzul Hijjah." (Majmu Fatawa
Ibnu Taimiyyah)
Muridnya Ibnul Qoyyim rahimahullah juga menyatakan," Ini menunjukkan
bahwa sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan menjadi lebih utama
karena adanya Laitatul Qadr, dan Lailatul Qadr ini merupakan bagian dari
waktu-waktu malamnya, sedangkan sepuluh hari (pertama) Dzul Hijjah
menjadi lebih utama karena hari-harinya (siangnya), karena didalamnya
terdapat yaumun Nahr (hari berkurban), hari `Arafah dan hari
Tarwiyah (hari ke delapan Dzulhijjah). (Zadul Maa'ad)

Ready..... Go! :D

PSIH IV (Mengamalkan Hadist Dhaif)

4: Mengamalkan Hadis Dhaif?
Friday, November 13, 2009 6:52 AM
From:
"syaikhu_pdklapa"
Add sender to Contacts
To:
daarut-tauhiid@yahoogroups.com


Pengantar Studi Ilmu Hadis 4

Hadis dhaif pada dasarnya adalah tertolak dan tidak boleh diamalkan,
bila dibandingkan dengan hadis shahih dan hadis hasan. Namun para ulama
melakukan pengkajian terhadap kemungkinan dipakai dan diamalkannya hadis
dhaif (yang tidak parah kedhaifannya) , sehingga terjadi perbedaan
pendapat di antara mereka:

1. Para ulama muhaqqiq berpendapat bahwa hadis dhaif tidak boleh
diamalkan sama sekali, baik berkaitan dengan masalah akidah atau
hukum-hukum fikih, targhib dan tarhib maupun dalam fadha'ilul a'mal
(keutamaan amal). Inilah pendapat imam-imam besar hadis seperti Yahya
bin Ma'in, Bukhari, Muslim. Pendapat ini juga diikuti oleh Ibnul 'Arabi
ulama fikih dari mazhab Malikiyah, Abu Syamah al-Maqdisi ulama dari
mazhab Syafi'iyah, dan Ibnu Hazm.

2. Pendapat kebanyakan ahli fikih membolehkan untuk mengamalkan dan
memakai hadis dhaif secara mutlak jika tidak didapatkan hadis lain dalam
permasalahan yang sama. Dikutip dari pendapat Abu Hanifah, asy-Syafi'i,
dan Malik. Ibnu Qayyim tampaknya juga termasuk yang memiliki
kecenderungan pada kelompok ini*.

3. Sebagian ulama membolehkan mengamalkan dan memakai hadis dhaif dengan
catatan sebagai berikut: khusus dalam targhib dan tarhib (motivasi
beramal dan ancaman bermaksiat) dan fadhilah 'amal. Sedangkan untuk
masalah akidah dan hukum halal serta haram, mereka tidak membolehkannya.

Ulama yang mempergunakan hadis dhaif dalam fadhilah amal, mensyaratkan
hal-hal sebagai berikut
a. kelemahan hadisnya tidak seberapa.
b. apa yang ditunjukkan hadis itu memiliki dasar lain yang shahih.
c. jangan diyakini kala menggunakannya bahwa hadis itu benar dari Nabi.

Wallahu a'lam

PSIH III (Hadist Dhaif)

PSIH 3: Hadis Dhaif?
Tuesday, November 10, 2009 11:54 PM
From:
"syaikhu_pdklapa"
Add sender to Contacts
To:
daarut-tauhiid@yahoogroups.com


Pengantar Studi Ilmu Hadis 3
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -\
--

Hadis dhaif adalah hadis yang tidak memenuhi syarat hadis shahih/hasan.

Secara garis besar, penyebab suatu hadis disebut dhaif terbagi 2, yaitu

A. Gugurnya Sanad
Keguguran sanad ada 2 macam
1. Keguguran sanad secara zhahir dan dapat diketahui ulama hadis karena
faktor perawi yang tidak pernah bertemu gurunya (perawi di atasnya) atau
hidup tidak sezaman dengannya.

2. Keguguran yang tidak jelas dan tersembunyi. Ini tidak dapat diketahui
kecuali oleh ulama yang ahli dan mendalami 'ilal hadis.

B. Cacatnya perawi
Cacat perawi bisa berkaitan dengan 'adalah dalam agama, atau dengan
dhabith (hafalan).
Berkaitan dengan ke'adalah-annya yaitu:
1. Dusta
2. Tuduhan berdusta
3. Fasik
4. Bid'ah
5. al-jahalah (tidak jelas)

Berkaitan dengan kedhabit-annya yaitu:
1. Kesalahan yang sangat buruk
2. Buruk hafalan
3. Kelalaian
4. Banyaknya waham (syak wasangka)
5. Menyelisihi para perawi yang tsiqah.

Secara lebih mendalam, hadis dhaif dibagi lagi menjadi beberapa kelompok
sesuai tingkat kedhaifannya, yaitu
1. hadis dhaif
2. hadis munkar
3. hadis matruk
4. hadis maudhu'

Tekadang ketika disebut hadis dhaif saja, ia bisa bermakna hadis dhaif
secara umum, ataupun hadis dhaif secara khusus (hadis yang tingkat
kedhaifannya tidak parah). Adapun dalam pembahasan boleh tidaknya
mengamalkan hadis dhaif, maka yang dimaksud adalah hadis dhaif secara
khusus (yang tidak parah kedhaifannya) .

Wallahu a'lam

PSIH II (Hadist Shahih dan Hadist Hasan)

Hadis Shahih dan Hadis Hasan?
Thursday, November 5, 2009 1:00 AM
From:
"syaikhu_pdklapa"
Add sender to Contacts
To:
daarut-tauhiid@yahoogroups.com


Shahih menurut istilah ilmu hadis ialah hadis yang sanadnya (jalur
periwayatan) bersambung dari permulaan sampai akhir, disampaikan oleh
orang-orang yang adil, memiliki kemampuan menghafal yang sempurna
(dhabit), serta tidak ada penyelisihan dengan perawi yang lebih
terpercaya darinya (syadz), dan tidak ada 'illat yang berat.

1. Sanad bersambung maksudnya setiap perawi telah mengambil hadis secara
langsung dari gurunya mulai dari awal sampai akhir sanad.

2. Perawi yang adil maksudnya setiap perawi harus seorang muslim,
baligh, berakal, tidak fasik (bermaksiat/ tidak taat), dan berperangai
baik. Tentang baligh, asy-Syaikh al-Qaththan mengatakan bahwa pendapat
yg benar adalah syarat baligh ketika meriwayatkan hadis. Adapun ketika
mendengar/menerima hadisnya, tidak disyaratkan perawi tersebut sudah
baligh, namun cukup dengan tamyiz (bisa membedakan, memahami perkataan
orang)

3. Dhabt yang sempurna maksudnya setiap perawi harus sempurna
hafalannya. Terbagi dua, yaitu dhabt shadr, dan dhabt kitab.
Dhabt shadr adalah apabila seorang perawi benar-benar menghafalnya dalam
dadanya (shadr), dan mampu mengungkapkannya kapan saja.
Dhabt kitab adalah apabila seorang perawi "menjaga" hadis yang telah
didengarnya dalam bentuk tulisan.

4. Tidak ada syuzudz (syadz) maksudnya adalah perawinya tidak
menyelisihi riwayat perawi yang lebih tsiqah (terpercaya) darinya.

5. Tidak ada 'illat yang berat, maksudnya tidak ada cacat pada hadis
tersebut. 'illat adalah sebab tersembunyi yang dapat merusak status
keshahihan hadis meskipun zhahirnya tidak nampak cacat.

Contoh 'illat adalah menyambung yang munqathi (terputus sanadnya),
memarfu'kan (menyambung sampai Nabi saw) hadis yang mauquf (hanya sampai
perkataan sahabat), memasukkan suatu hadis ke dalam hadis yang lain,
menempatkan sanad (jalur perawi) pada matan (isi) hadis yang bukan
semestinya, dan yang serupa dengan itu.

Mengetahui 'ilal (bentuk jamak dari `illah) adalah hal yang tersamar
bagi banyak ahli hadis, ia dapat dikatakan jenis ilmu hadis yang paling
dalam dan rumit.

Jika salah satu dari 5 syarat tersebut di atas tidak terpenuhi, maka
hadis tersebut tidak bisa digolongkan sebagai hadis shahih.

Adapun hadis hasan, ia masih memenuhi kelima syarat tersebut, hanya saja
kurang sempurna dalam memenuhi syarat dhabt (hafalan).

Adapun yang disebut dengan hasan shahih, adalah istilah yang dibuat oleh
al-Imam at-Tirmidzi. Ia dapat bermakna:

1. Bila hadis tersebut mempunyai 2 sanad, maka maksudnya shahih menurut
sanad yang satu, dan hasan menurut sanad yang lain

2. Bila hadis tersebut hanya mempunyai 1 sanad, maka maksdunya shahih
menurut sebagian ulama hadis, dan hasan menurut sebagian yang lain.

Adapun shahih li ghairihi adalah hadis hasan yang "naik pangkat" menjadi
hadis shahih karena ada penguat dari jalur periwayatan yang lain.

Adapun hasan li ghairihi adalah hadis dhaif yang "naik pangkat" menjadi
hadis hasan karena ada penguat dari jalur periwayatan yang lain.

PSIH I (Pengantar Study Ilmu Hadist)

Pengantar Studi Ilmu Hadis 1 (PSIH 1)
Tuesday, November 3, 2009 7:05 AM
From:
"syaikhu_pdklapa"
Add sender to Contacts
To:
daarut-tauhiid@yahoogroups.com


Bismillahirrahmanir rahim

Berikut ini saya ringkas dari buku "Pengantar Studi Ilmu Hadits"
(Mabahits Fii 'Ulumil Hadits), karangan asy-Syaikh Manna al-Qaththan,
seorang dosen mumpuni di Universitas Ibnu Su'ud. Seri ini tidak akan
berurut seperti pembahasan di dalam bukunya. Juga tidak akan memuat
semua pembahasan dalam buku tsb (baca ndiri ya, klo pengen tau :).
Bagusnya sih memulai dari "Pengantar Studi Ilmu Al-Quran" dulu.... tapi
karena yg ntu lagi di jakarta bukunya, jadi pake yg ada dulu ajalah...

Yang saya lakukan adalah meringkas, jadi mungkin kalimatnya tidak sama
persis dengan bukunya. Bahkan ada bagian yang saya tambahkan, terkait
perkataan yg tdk dijelaskan, atau tambahan dalil yang dapat lebih
menguatkan, dll. Selain itu, pelafalan juga tidak semuanya sesuai dg
bahasa arab. Seperti "hadis" yg mungkin lebih tepat memakai "ts", atau
nama2, seperti "Umar", yang sebenarnya memakai " 'ain", bukan
"alif/hamzah"

Selamat menikmati :)

------------ --------- --------- --------- --------- --------

PSIH 1 : Perhatian terhadap Hadis

Para sahabat, tabi'in (generasi stlah sahabat), dan tabi'ut-tabi' in
(generasi stl tabi'in) sangat perhatian dalam menjaga hadis-hadis Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam dan periwayatannya dari generasi ke
generasi yang lain, karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap agama.
"Telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian"
(Al-Ahzab : 21)

"Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengar hadis
dari kami lalu menghafal hingga menyampaikannya. Berapa banyak orang
yang membawa ilmu lalu menyampaikannya kepada orang uang lebih faham
daripadanya, dan berapa banyak orang yang membawa ilmu namun tidak
mengerti"
(HR. Abu Dawud, an-Nasa'i, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi, ia berkata,
"hadis ini hasan")

Maka periwayatan hadis masih tetap menjadi suatu kemuliaan bagi paa
sahabat dan para pendahulu kita demi menjaga warisan Nabi, "ilmu ini
akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap pendahulu, mereka
menolak penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, anutan
orang-orang yang batil, dan penakwilan orang-orang yang bodoh"
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, ad-Darimi, Ahmad, dan at-Tirmidzi, ia
berkata "ini hadis hasan shahih")

Diriwayatkan Abu Ayyub berangkat dari Madinah menuju Mesir hanya untuk
meriwayatkan sebuah hadis dari 'Uqbah bin 'Amir.
(Diriwayatkan Ibnu Abdil-Barr)

Para tabi`in dan para pengikutnya tidak kalah tamaknya dalam mencari
hadis dari para sahabat. Majelis mereka dipenuhi dengan hadis Rasulullah
shallallahu `alaihi wasallam. ereka rela menanggung kesusahan dan
kesulitan, serta menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkannya. Said bin
al-Musayyib berkata, "Untuk mendapatkan satu hadis, aku rela menempuh
beberapa hari perjalanan siang dan malam"
(Diriwayatkan ar-Ramahurmuzi)

Asy-Sya'bi menceritakan sebuah hadis kepada seseorang lalu berkata
kepadanya, "Aku berikan ini kepadamu secara cuma-cuma, yang pernah
didapatkan dengan menempuh perjalanan ke Madinah"