Jumat, 19 November 2010

SEKEDAR INFO

Kami membuat kompilasi materi Ekonomi Islam, agar bisa diakses oleh siapa saja.
Silahkan klik http://sharianomics.wordpress.com/sharianomics-map/ dan
sebarluaskan informasi ini jika manfaat.

Materi baru beberapa persen dari total yang akan kami sampaikan. Boleh request
materi, via ahmadifham@yahoo.com cc ahmad.ifham@anabatic.co.id atau Twitter di
@ahmadifham atau FB di Ahmad Ifham Sholihin / ahmadifham@yahoo.com atau di YM:
ahmadifham

Jumat, 12 November 2010

TABARRUJ DAN IKHTILATH

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
Aku tidak tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki
selain (fitnah) wanita.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي
صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ
أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

“Wanita itu dari depan nampak seperti bentuk setan dan dari belakang
nampak seperti bentuk setan. Kalau salah seorang di antara kalian
melihat wanita hendaklah mendatangi istrinya. Karena hal itu akan
meredakan apa yang di dalam dirinya.”

Pengertian Tabarruj dan Ikhtilath
Menurut bahasa, tabarruj adalah wanita yang memamerkan keindahan dan
perhiasannya kepada laki-laki (Ibnu Manzhur di Lisanul Arab).
Tabarrajatil mar’ah artinya wanita yang menampakkan kecantikannya,
lehernya, dan wajahnya. Ada yang mengatakan, maksudnya adalah wanita
yang menampakkan perhiasannya, wajahnya, kecantikannya kepada
laki-laki dengan maksud untuk membangkitkan nafsu syahwatnya.

Menurut syariah, tabarruj adalah setiap perhiasan atau kecantikan yang
ditujukan wanita kepada mata-mata orang yang bukan muhrim. Termasuk
orang yang mengenakan cadar, di mana seorang wanita membungkus
wajahnya, apabila warna-warnanya mencolok dan ditujukan agar dinikmati
orang lain, ini termasuk tabarruj jahiliyah terdahulu. Seperti yang
disinyalir ayat,

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan
bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan
dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai
ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab: 33)

Allah melarang para wanita untuk tabarruj setelah memerintahkan mereka
menetap di rumah. Tetapi apabila ada keperluan yang mengharuskan
mereka keluar rumah, hendaknya tidak keluar sembari mempertontonkan
keindahan dan kecantikannya kepada laki-laki asing yang bukan
muhrimnya. Allah juga melarang mereka melakukan tabrruj seperti
tabarrujnya orang-orang jahiliyah terdahulu. Apa maksud tabarruj
jahiliyah terdahulu itu?

رَوَى اِبْنُ أَبِي نَجِيْحٍ عَن مُجَاهِد وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ
الْجَاهِلِيَّةِ الأُوْلَى قَالَ كَانَتِ الْمَرْأَةُ تَتَمَشَّى بَيْنَ
أَيْدِي الْقَوْمِ فَذَلِكَ تَبَرُّجُ الْجَاهِلِيَّةِ

Ibnu Abu Najih meriwayatkan dari Mujahid, “Janganlah kamu berhias dan
bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” Dia
(Mujahid) berkata, “Wanita dahulu berjalan-jalan di hadapan kaum
(laki-laki). Itulah tabarruj Jahiliyah.
Imam Abu Daud meriwayatkan,

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ أَبِي أُسَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ
سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
وَهُوَ خَارِجٌ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ
فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ
تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ فَكَانَتْ
الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا
لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ

Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari bahwa ia mendengar Rasulullah saw
keluar rumah dari masjid. Tiba-tiba orang laki-laki dan wanita
berkumpul di jalanan. Rasulullah saw berkata kepada para wanita itu,
“Agar wanita di belakang saja, kalian tidak boleh berada di
tengah-tengah jalan (ketika ada laki-laki) dan hendaknya kalian di
pinggiran jalan.” Serta merta ada wanita yang merapat ke dinding
(rumah) sampai-sampai pakaiannya tersangkut ke dinding itu karena
terlalu nempel.” (Abu Daud).

Al-Qur’an memberikan arahan kepada wanita bagaimana seharusnya mereka
bersikap, bersuara dan bergaul dengan lawan jenisnya. Allah berfirman,

“Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang
lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara
sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan
ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)Imam Abu Daud meriwayatkan,

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ أَبِي أُسَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ
سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
وَهُوَ خَارِجٌ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ
فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ
تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ فَكَانَتْ
الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا
لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ

Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari bahwa ia mendengar Rasulullah saw
keluar rumah dari masjid. Tiba-tiba orang laki-laki dan wanita
berkumpul di jalanan. Rasulullah saw berkata kepada para wanita itu,
“Agar wanita di belakang saja, kalian tidak boleh berada di
tengah-tengah jalan (ketika ada laki-laki) dan hendaknya kalian di
pinggiran jalan.” Serta merta ada wanita yang merapat ke dinding
(rumah) sampai-sampai pakaiannya tersangkut ke dinding itu karena
terlalu nempel.” (Abu Daud).

Al-Qur’an memberikan arahan kepada wanita bagaimana seharusnya mereka
bersikap, bersuara dan bergaul dengan lawan jenisnya. Allah berfirman,

“Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang
lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara
sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan
ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)
Imam Abu Daud meriwayatkan,

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ أَبِي أُسَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ
سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
وَهُوَ خَارِجٌ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ
فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ
تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ فَكَانَتْ
الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا
لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ

Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari bahwa ia mendengar Rasulullah saw
keluar rumah dari masjid. Tiba-tiba orang laki-laki dan wanita
berkumpul di jalanan. Rasulullah saw berkata kepada para wanita itu,
“Agar wanita di belakang saja, kalian tidak boleh berada di
tengah-tengah jalan (ketika ada laki-laki) dan hendaknya kalian di
pinggiran jalan.” Serta merta ada wanita yang merapat ke dinding
(rumah) sampai-sampai pakaiannya tersangkut ke dinding itu karena
terlalu nempel.” (Abu Daud).

Al-Qur’an memberikan arahan kepada wanita bagaimana seharusnya mereka
bersikap, bersuara dan bergaul dengan lawan jenisnya. Allah berfirman,

“Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang
lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara
sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan
ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

Bahaya Tabarruj dan Ikhtilath
1. Tabarruj dan ikhtilath adalah maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya

Dan barangsiapa bermaksiat kepada Allah akan merasakan akibatnya. Sama
sekali tidak akan membahayakan Allah. Rasulullah saw. bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى، فَقَالُوْا:
يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ
الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau.” Mereka
(sahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang tidak mau?” Beliau
bersabda, “Barangsiapa taat kepadaku akan masuk surga dan barangsiapa
bermaksiat kepadaku ia orang yang tidak mau.” (H.R. Bukhari)

2. Tabarruj dan ikhtilath termasuk dosa besar

Karena kedua hal ini merupakan sarana paling kuat terhadap perbuatan
zina. Di riwayat yang shahih dari Ahmad diceritakan bahwa Umaimah
binti Raqiqah datang kepada Rasulullah saw. Untuk berbaiat kepada
beliau dalam membela Islam. Beliau bersabda,

أُبَايِعُكَ عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكِي بِاللهِ شَيْئًا، وَلاَ تُسْرِقِي،
وَلاَ تَزْنِي، وَلاَ تَقْتُلِي وَلَدَكِ وَلاَ تَأْتِي بِبُهْتَانٍ
تَفْتَرِيْنَهُ بَيْنَ يَدَيْكَ وَرِجْلَيْكِ وَلاَ تَنُوْحِي وَلاَ
تَتَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُوْلَى

“Aku membaiatmu agar kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu,
tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak melakukan
kebohongan dari hadapanmu (karena perbuatan lisan dan kemaluan), tidak
meratapi (orang mati), dan tidak tabarruj dengan tabarruj jahiliyah
pertama.” (H.R. Bukhari)

3. Tabarruj dan Ikhtilath mendatangkan laknat

Di Mustadrak Al-Hakim dan di Musnad Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar
Rasulullah saw bersabda,

يَقُولُ سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي رِجَالٌ يَرْكَبُونَ عَلَى
السُّرُوجِ كَأَشْبَاهِ الرِّجَالِ يَنْزِلُونَ عَلَى أَبْوَابِ
الْمَسْجِدِ نِسَاؤُهُمْ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ عَلَى رُءُوسِهِمْ
كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْعِجَافِ الْعَنُوهُنَّ فَإِنَّهُنَّ
مَلْعُونَاتٌ لَوْ كَانَتْ وَرَاءَكُمْ أُمَّةٌ مِنْ الْأُمَمِ
لَخَدَمْنَ نِسَاؤُكُمْ نِسَاءَهُمْ كَمَا يَخْدِمْنَكُمْ نِسَاءُ
الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ

“Akan datang di akhir umatku nanti laki-laki yang naik pelana (mewah)
layaknya laki-laki yang turun ke pintu-pintu masjid, wanita-wanita
mereka mengenakan pakaian namun telanjang, di kepala mereka seperti
punuk unta kurus. Kutuklah wanita-wanita itu karena sesungguhnya
mereka itu terkutuk. Jika setelah kalian ada kaum, tentu wanita-wanita
kalian akan melayani wanita-wanita mereka sebagaimana wanita-wanita
kaum terdahulu melayani kalian.”

4. Tabarruj temasuk sifat penghuni neraka

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ
كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ
عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ
الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ
رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat sekarang ini.
Satu kaum yang bersama mereka cambuk-cambuk seperti ekor sapi yang
dipakai untuk memukul orang. Wanita-wanita mereka berpakaian namun
telanjang, bergaya pundak mereka dan berpaling dari kebenaran. Kepala
mereka seperti punuk unta kurus, mereka tidak masuk surga dan tidak
mencium baunya. Padahal baunya tercium dari jarak perjalanan sekian
dan sekian.” (H.R. Muslim)

5. Tabarruj adalah Kemunafikan yang akan Mendatangkan Kegelapan di hari Kiamat

Al-Baihaqi meriwayatkan sabda Rasulullah saw. dengan sanad shahih,

خَيْرُ نِسَائِكُمْ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْمُوَاتِيَةُ
الْمُوَاسِيَةُ إِذَا اتَّقَيْنَ اللهَ وَشَرُّ نِسَائِكُمْ
اَلْمُتَبَرِّجَاتُ الْمُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ الْمُنَافِقَاتُ لاَ
يَدْخُلُ الْجَنَّة َمِنْهُنَّ إِلاَّ مِثْلَ الْغُرَابِ الأَعْصَمِ

“Sebaik-baik wanita kalian adalah yang penyayang, yang banyak
melahirkan, yang cocok (dengan suaminya) jika mereka bertakwa kepada
Allah. Dan seburuk-buruk wanita adalah yang tabarruj dan sombong.
Mereka itulah orang-orang munafik. Tidak akan masuk surga salah
seorang di antara mereka kecuali seperti gagak putih.” (Baihaqi).

6. Tabarruj dan ikhtilath menodai kehormatan keluarga dan masyarakat

Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تَسْأَلْ عَنْهُمْ رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَى
إِمَامَهُ وَمَاتَ عَاصِيًا وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ أَبَقَ فَمَاتَ
وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا قَدْ كَفَاهَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا
فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْهُمْ

“Ada tiga orang yang, kamu jangan bertanya kepada mereka: seseorang
yang keluar dari jamaah dan durhaka kepada imamnya lalu mati dalam
keadaan bermaksiat, seorang budak perempuan dan laki-laki yang berlari
(dari tuannya) kemudian ia mati, dan seorang wanita ditinggal keluar
oleh suaminya dan telah dicukupi kebutuhan dunianya lalu ia
bertabarruj setelah itu. Maka jangan bertanya kepada mereka.” (H.R.
Ahmad)

7. Tabarruj adalah sunnah Iblis

Jika menutup aurat dan berhijab serta menjaga diri dan kehormatan
adalah sunnah Nabi saw. Maka tabarruj dan ikhtilath adalah sunnah
Iblis, di mana sasaran godaan pertama terhadap manusia adalah agar
auratnya terbuka. Allah mewanti-wanti hal ini kepada kita agar kita
tidak terfitnah oleh tipu daya Iblis. Allah berfirman,

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan
sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia
menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada
keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat
kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.
Sesungguhnya kami telah menjadikan syetan-syetan itu pemimpin-pemimpin
bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’raf: 27).

8. Tabarruj dan Ikhtilath adalah Permulaan Zina

Setiap kali penyimpangan terjadi akan melahirkan penyimpangan lain
yang lebih besar. Ketika wanita tidak menutup auratnya dan tidak
menjaga kehormatannya dengan bercampur bersama laki-laki yang bukan
muhrimnya, terlebih dengan dandanan yang menyebar fitnah, rasa malu
sudah sirna dan ghirah laki-laki mulai tiada, maka hal-hal haram
menjadi mudah dilakukan bahkan dosa-dosa besar menjadi hal yang biasa
dan wajar. Termasuk di antaranya zina. Di tengah masyarakat kita
sekarang terjadi perbedaan persepsi tentang zina. Bahkan tidak ada
undang-undang yang menjadikan zina sebagai kejahatan kecuali ia
terkait dengan hak-hak asasi manusia.

9. Tabarruj dan Ikhtilath mengundang Siksaan Allah

Di hadits riwayat Ibnu Majah Rasulullah saw bersabda,

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا
إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ
مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah nampak kebejatan di antara kaum Luth sampai mereka
terang-terangan (melakukannya) kecuali setelah itu tersebarlah
penyakit kolera dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada pendahulu
mereka.” (Ibnu Majah).

Secara umum, kemaksiatan kerap kali menjadi penyebab terjadinya
berbagai musibah. Seperti yang Allah sinyalir dalam Al-Qur’an,

“Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan
kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati
Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka
sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami),
kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16)

Tentu saja yang akan terkena dampaknya tidak hanya pelaku kemaksiatan,
kaum mutabarrijat dan mereka tidak ada hijab dalam hubungan antar
lawan jenis. Semua orang yang ada di sebuah komunitas akan terkena
dampaknya. Maka kewajiban bagi semuanya adalah mencegah terjadinya
berbagai kemaksiatan dan kemungkaran sebisa mungkin. Para ulama dan
pemimpin menjadi penanggung jawab utama sebelum yang lain dalam
menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Abu Bakar As-Shidiq meriwayatkan bahwa ia mendengar sabda Rasulullah saw,

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوْهُ أَوْشَكَ
أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ

“Jika manusia melihat kemungkaran lalu tidak merubahnya, hampir Allah
meratakan siksanya kepada mereka semua.” (Diriwayatkan Empat Imam dan
dinilai shahih oleh Ibnu Hibban)

KALA ALI TELAT SHALAT SUBUH BERJAMAAH

Oleh: Mochamad Bugi

dakwatuna.com – Dini hari itu Ali bin ABi Thalib bergegas bangun untuk
mengerjakan shalat Subuh berjamaah di masjid bersama Rasulullah.
Rasulullah tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah
Rasulullah keduluan orang lain dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang
istimewa karena memang itulah aktivitas yang sempurna untuk memulai
hari, dan bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat
terbiasa.

Langit masih gelap, cuaca masihlah dingin, dan jalanan masih pula
diselimuti kabut pagi yang turun bersama embun. Ali melangkahkan
kakinya menuju masjid. Dari kejauhan, lamat-lamat sudah terdengar
suara Bilal memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu
ke segenap penjuru Kota Madinah.

Namun belumlah begitu banyak melangkah, di jalan menuju masjid, di
hadapannya ada sesosok orang. Ali mengenalinya sebagai seorang kakek
tua yang beragama Yahudi. Kakek tua itu melangkahkan kakinya teramat
pelan sekali. Itu mungkin karena usianya yang telah lanjut. Tampak
sekali ia sangat berhati-hati menyusuri jalan.

Ali sebenarnya sangat tergesa-gesa. Ia tidak ingin tertinggal
mengerjakan shalat tahyatul masjid dan qabliyah Subuh sebelum
melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah dan para
sahabat lainnya.

Ali paham benar bahwa Rasulullah mengajarkan supaya setiap umat muslim
menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, Ali pun
terpaksa berjalan di belakang kakek itu. Tapi apa daya, si kakek
berjalan amat lamban, dan karena itu pulalah langkah Ali jadi
melambat. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk
mendahuluinya. Ia khawatir kalau-kalau kakek Yahudi itu terjatuh atau
kena celaka.

Setelah sekian lamanya berjalan, akhirnya waktu mendekati masjid,
langit sudah mulai terang. Kakek itu melanjutkan perjalanannya,
melewati masjid.

Ketika memasuki masjid, Ali menyangka shalat Subuh berjamaah sudah
usai. Ia bergegas. Ali terkejut sekaligus gembira, Rasulullah dan para
sahabat masih rukuk pada rakaat yang kedua. Berarti Ali masih punya
kesempatan untuk memperoleh shalat berjamaah. Jika masih bisa
menjalankan rukuk bersama, berarti ia masih mendapat satu rakaat
shalat berjamaah.

Sesudah Rasulullah mengakhiri shalatnya dengan salam, Umar bin Khattab
memberanikan diri untuk bertanya. “Wahai Rasulullah, mengapa hari ini
shalat Subuhmu tidak seperti biasanya? Ada apakah gerangan?”

Rasulullah balik bertanya, “Kenapakah, ya Umar? Apa yang berbeda?”

“Kurasa sangat lain, ya Rasulullah. Biasanya engaku rukuk dalam rakaat
yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama
sekali. Kenapa?”

Rasulullah menjawab, “Aku juga tidak tahu. Hanya tadi, pada saat aku
sedang rukuk dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril tiba-tiba saja
turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun iktidal.
Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui juga.”

Umar makin heran. “Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasulullah?”

Nabi berkata, “Aku juga belum tahu. Jibril belum menceritakannya kepadaku.”

Dengan perkenaan Allah, beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun
turun. Ia berkata kepada Nabi saw., “Muhammad, aku tadi diperintahkan
oleh Allah untuk menekan punggunmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja
agar Ali mendapatkan kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena
Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya
secara bertanggung jawab. Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi.
Dari pegnhormatannya itu sampai ia terpaksa berjalan pelan sekali
karena kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan
tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh peluang untuk
mengerjakan shalat Subuh berjamaah denganmu hari ini.”

Mendengar penjelasan Jibril itu, mengertilah kini Rasulullah. Beliau
sangat menyukai perbuatan Ali karena apa yang dilakukannya itu
tentunya menunjukkan betapa tinggi penghormatan umat Islam kepada
orang lain. Satu hal lagi, Ali tidak pernah ingin bersengaja terlambat
atau meninggalkan amalan shalat berjamaah. Rasulullah menjelaskan
kabar itu kepada para sahabat.

MENATAP WAJAH ALLAH

Menatap Wajah Allah SWT

Oleh: Mochamad Bugi


dakwatuna.com – Kata Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, “Ini merupakan puncak
kerinduan pecinta surga dan bahan kompetisi mereka. Dan untuk hal ini
seharusnya orang-orang bekerja keras untuk mendapatkannya.”

Nabi Musa pernah meminta hal ini. Dijawab oleh Allah SWT seperti yang
tertera di ayat 143 surat Al-A’raf.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang
telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya,
berkatalah Musa, “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar
aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman, “Kamu sekali-kali
tidak sanggup melihat-Ku. Tapi lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap
di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”.
Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya
gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa
sadar kembali, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada
Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

Ada tujuh pelajaran dari ayat di atas:

1. Tidak boleh menuduh kepada Nabi Musa bahwa ia meminta sesuatu
yang tidak diperkenankan oleh Allah swt.
2. Allah tidak memungkiri permintaan Nabi Musa.
3. Allah menjawab dengan kalimat, “Kamu tidak akan sanggup
melihat-Ku.” Bukan mengatakan, “Aku tidak bisa dilihat.”
4. Allah Mahakuasa untuk menjadikan gunung itu tetap kokoh di
tempatnya, dan ini bukan hal mustahil bagi Allah, itu merupakan hal
yang mungkin. Hanya saja dalam hal ini Allah juga mempersyaratkan
adanya proses ru’yah (melihat). Jadi, seandainya hal itu merupakan
sesuatu yang mustahil, sudah tentu Allah tidak akan mempersyaratkan
hal itu.
5. Kalimat “tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu,
dijadikannya gunung itu hancur luruh” adalah bukti bahwa bolehnya
melihat Allah swt. Jika boleh bagi-Nya menampakkan diri kepada gunung,
bagaimana terhalang untuk menampakan diri kepada para nabi, rasul, dan
wali-Nya di kampung akhirat?
6. Di ayat itu Allah swt. memberitahu kepada Nabi Musa bahwa gunung
saja tidak mampu melihat-Nya di dunia, apalagi manusia yang lebih
lemah dari gunung.
7. Allah swt. telah berbicara dengan Nabi Musa. Nabi Musa juga
telah mendengar perkataan Allah swt. tanpa perantara. Maka,
melihat-Nya sudah pasti sangat bisa.

Dalil Bertemu Allah

1. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan
menemui-Nya. (Al-Baqarah: 223)

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka
datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu
kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu. Dan
bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan
menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

2. Penghormatan kepada mereka (orang-orang beriman) pada hari mereka
menemui-Nya adalah salam. (Al-Ahzab: 44)

Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari
mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan dia menyediakan pahala yang mulia
bagi mereka.

3. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang shalih. (Al-Kahfi: 110)

Katakanlah: Sesungguhnya aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang
diwahyukan kepadaku, “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan
yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia
mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

4. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah. (Al-Baqarah: 249)

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata,
“Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa
di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang
siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, Maka dia
adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang
di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman
bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah
minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari Ini untuk melawan
Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan
menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit
dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah
beserta orang-orang yang sabar.”

Para ahli bahasa sepakat bahwa jika liqa’ itu dinisbahkan kepada yang
hidup, yang selamat dari gangguan kebutaan dan penghalang lainnya.
Maka, hal itu menuntut adanya penglihatan dengan mata.

Bagaimana Dengan Ayat 103 Surat Al-An’am?

Laa tudriku hu al-absharu wa huwa yudriku al-abshara wa huwa
al-lathiifu al-khabiir.

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat
melihat segala penglihatan itu.

Kata Ibnu Taimiyah, “Ayat ini lebih menunjukkan bahwa Allah bisa
dilihat daripada menunjukkan tidak bisa dilihat. Allah menyebutkannya
dalam konteks memberikan pujian. Sudah maklum bahwa pujian terhadap
diri-NYa adalah sifat-sifat yang pasti dan melekat. Jika tidak ada,
maka tidak sempurna, sehingga tidak layak dipuji.”

Ibnu Taimiyah menambahkan, “Hanya saja Allah itu dipuji dengan tidak
adanya sesuatu bila sesuatu itu mengandung hal yang ada wujudnya,
sebagaimana pujian terhadap diriNya dengan menafikan kantuk dan tidur
yang mencakup kesempurnaan terus-menerusnya Allah mengurus
makhluk-Nya; menafikan kematian yang berarti kesempurnaan hidup, serta
menafikan capek dan letih yang mengandung kesempurnaan kekuasaan.”

Ibnu Taimiyah lalu menegaskan, “Oleh karena itu, Allah tidak memuji
diri-Nya dengan ketiadaan yang mengandung sesuatu yang melekat. Sebab,
sesuatu yang ditiadakan (ma’dum) itu menyertai yang disifati berkenaan
dengan ketiadaan itu. Sesuatu Dzat Yang Sempurna tidak bisa disifati
dengan hal yang layak bagi-Nya maupun sesuatu yang tiada. Jika saja
yang dimaksud oleh firman Allah swt. laa tadrikuhu al-abshaaru adalah
bahwa Dia tidak bisa dilihat dalam kondisi apa pun, maka dalam hal ini
tidak ada pujian maupun kesempurnaan, karena yang tiada juga demikian.
Sesuatu yang tiada jelas tidak bisa dilihat dan tidak bisa ditangkap
dengan penglihatan, sedangkan Rabb jelas Mahatinggi untuk dipuji
dengan sesuatu yang juga terdapat pada sesuatu yang jelas tidak ada.
Dengan demikian, makna dari ayat di atas adalah bahwa Ia tetap bisa
dilihat namun tidak bisa ditangkap sepenuhnya dan tidak bisa
dimengerti hakikatnya.”

Maka, kata Ibnu Taimiyah, “Firman Allah laa tudrikuhu al-abshaaru
menunjukkan puncak dari keagungan Allah. dan bahwa Dia lebih Besar
dari segala sesuatu. Dan juga, karena keagunganNya, Dia tidak bisa
ditangkap atau dimengerti oleh pandangan. Kata idraak adalah lebih
dalam daripada ru’yah (melihat).”

Liqa’ullah Adalah Az-Ziyadah

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang
yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). Bagi orang-orang
yang berbuat baik, ada “pahala yang baik” (surga) dan “tambahannya”.
Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan.
Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (Yunus: 25-26)

Menurut Ibnu Qayyim, yang dimaksud dengan kata al-husna di ayat itu
adalah al-jannah (surga), sedangkan yang dimaksud dengan az-ziyadah
(tambahan) adalah memandang wajah Allah Yang Mulia. Ini adalah tafsir
Rasulullah saw. atas ayat itu dalam hadits yang diriwayatkan oleh
Muslim dalam Shahih-nya.

Rasulullah membaca ayat lilladzina ahsanu al-husna wa ziyadah, lalu
bersabda, “Jika ahli surga sudah masuk ke dalam surga, demikian juga
ahli neraka sudah masuk ke dalam neraka, maka ada seorang malaikat
yang menyeru: Wahai ahli surga, sesungguhnya kalian telah dijanjikan
di sisi Allah, maka sekarang Allah hendak menunaikan janji itu kepada
kalian. Mereka berkata: apakah janji itu? Bukankah Dia telah membuat
berat timbangan kebaikan kami dan telah membuat putih (cerah) wajah
kami, serta telah memasukkan kami ke dalam surga dan mengeluarkan kami
dari neraka? Akhirnya, tabir pun dibuka lalu mereka bisa melihat
kepada-Nya. Sungguh tidak ada sesuatu yang telah Dia berikan kepada
ahli surga yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada-Nya.
Itulah yang dimaksud dengan ziyadah.”

Ali bin Abi Thalib dan Anas bin Malik berkata, “Yang dimaksud adalah
melihat Wajah Allah swt.” saat menafsirkan ayat lahum maa yasyaa-una
fiihaa wa ladainaa maziid, mereka di dalamnya memperoleh apa yang
mereka kehendaki; dan pada sisi kami ada tambahannya. (Qaf: 35).

Melihat Dengan Mata Kepala

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka
melihat kepada RabbNya. (Al-Qiyamah: 22-23)

Ayat ini menegaskan dengan gamblang bahwa Allah akan dilihat dengan
mata kepala secara langsung pada hari kiamat nanti. Tentang hal ini
banyak hadits berderajat mutawatir.

Hadits Abu Hurairah dan Abu Sa’id dalam Shahihain menceritakan bahwa
para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb
kita pada hari kiamat?” Rasulullah saw. menjawab, “Apakah kalian
mendapatkan kesulitan melihat bulan pada saat purnama?” Mereka
menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian
mendapatkan kesulitan melihat matahari pada saat tidak ada awan?”
Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau kemudian bersabda, “Seperti itu juga
kalian melihat Rabb kalian.”

Anas bin Malik berkata, “Manusia akan melihat Allah pada hari kiamat
nanti dengan mata kepala mereka.”

Orang Kafir Tidak Akan Melihat Allah

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka
usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya
mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.
(Al-Muthaffifin: 14-15)

Dan salah satu bagian dari hukuman terbesar terhadap orang-orang kafir
adalah mereka terhalang untuk melihat Allah dan terhalang dari
mendengar perkataan-Nya.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i menjelaskan tentang ayat itu, “Ketika
mereka itu terhalang dari melihat Rabb mereka karena mereka dalah
orang-orang yang dibenci atau dimurkai Allah, maka ini menjadi bukti
bahwa wali Allah itu akan melihat Allah karena Allah meridhai mereka.”

Lalu Ar-Rabi’ bertanya, “Wahai Abu Abdillah, apakah benar engkau
mengatakan demikian?” Ia menjawab, “Ya, benar! Karena itu pulalah aku
menundukkan diri diri di hadapan Allah. Kalau saja Muhammad bin Idris
tidak meyakini bahwa ia akan melihat Allah tentu ia tidak mau
menghambakan diri kepada-Nya.”

NIKMAT MEMPERBANYAK SUJUD

Nikmatnya Memperbanyak Sujud

Oleh: M. Yusuf Shandy, Lc.

Bersujud di hadapan Allah SWT termasuk ibadah yang paling mulia sekaligus sebagai sarana paling baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena, kata Rasulullah Saw, “Saat dimana seorang hamba paling dekat kepada Tuhannya, Allah Azza Wajalla, adalah ketika dia bersujud....” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)

Namun, tahukah Anda bahwa dengan banyak bersujud maka muatan-muatan listrik yang ada dalam tubuh kita akan kelaur karena diserap oleh bumi (tanah)?

Abdurrahman Al-Asymawi, seorang ulama terkemuka berkebangsaan Mesir dalam bukunya yang berjudul Basysyiru Wa La Tunffiru mengatakan, setiap hari tubuh menyerap cahaya dan tenaga listrik magnetis yang tak sedikit jumlahnya melalui perangkat-perangkat listrik yang kita gunakan. Sehingga dengan demikian tubuh ini menjadi alat untuk menyerap cahaya listrik magnetis dalam jumlah banyak. Artinya, tubuh mengangkut sejumlah tenaga listrik tanpa kita sadari.

Ketika kita mengalami influenza, badan terasa pegal, berat, sesak, malas dan lemah, hal ini menandakan bahwa tubuh sedang merasakan sesuatu dari muatan magnetis tersebut. Lalu bagaimana jalan keluarnya?

Melalui riset ilmiahnya, seorang peneliti Barat yang non-muslim mengemukakan bahwa metode paling jitu untuk “mensucikan” tubuh dari kandungan listrik positif (yang berbahaya bagi tubuh) adalah dengan mengarahkan ubun ke bumi(tanah) lebih dari sekali. Karena, tanah itu sifatnya negatif maka ia akan menarik muatan lsitrik yang positif, yang terdapat dalam tubuh. Hal yang sama juga terjadi pada aliran (kabel) listrik dari gedung-gedung yang dialirkan ke dalam tanah. Tujuannaya adalah untuk menarik muatan listrik yang ada pada petir ke arah tanah.

Lebih jaun dia menjelaskan metode paling tepat adalah menempelkan ubun-ubun ke tanah secara langsung seraya memfokuskan arah pandangan ke arah pusat bumi. Karena, dalam keadaan seperti itu, muatan lsitrik yang ada dalam tubuh akan terserap oleh bumi sacara lebih kuat dan dalam jumlah yang banyak. Dan yang lebih mengagumkan adalah seperti yang kita ketahui bersama bahwa secara ilmiah pusat bumi adalah Makkah Al-Mukarramah. Lebih tepatnya lagi adalah Ka’bah, sebagaimana yang terdapat dalam kajian-kajian geografis dan disepakati oleh mereka yang ahli di bidangnya.

Jika demikian, sujud kepada Allah SWT yang kita lakukan setiap kali melaksanakan shalat adalah merupakan sarana yang paling tepat untuk membuang muatan-muatan listrik berbahaya tersebut, sekaligus menjadi sarana yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Sang Maha Pancipta. “....maka, perbanyaklah oleh kalian bersujud,” perintah Rasulullah (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Manfaat lain dari banyak bersujud adalah ampunan dan derajat yang tinggi di Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah kamu memperbanyak sujud. Sesungguhnya jika kamu sujud satu kali saja karena Allah, maka Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan satu kesalahanmu.’”(HR. Muslim dari Tsauban Abu Abdullah)

Maka, dengan memperbanyak sujud, dua beban tubuh yang berbahaya, yaitu muatan listrik dan dosa, akan berkurang sehingga tubuh pun terasa ringan.

Dalam Shahih-nya, Muslim meriwayatakan bahwa Abu Firâs Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslamiy–khadim (pelayan) Rasulullah SAW dan termasuk ahlusshuffah-berkata, Suatu kali saya bermalam bersama Rasulullah SAW. Saya menyediakan air untuk beliau berwudhu dan untuk kepentingan beliau yang lain. Melihat hal tersebut, Rasulullah saw bersabda, “Mintalah padaku sesuatu.” Saya menjawab, “Saya mohon agar dapat menemanimu di dalam surga.” Maka beliau bertanya, ‘Apakah ada permohonan lainnya?” Saya menjawab, “Hanya itu, wahai Rasulullah.” Beliau lalu bersabda, “Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu itu dengan banyak bersujud.”

Minggu, 07 November 2010

SEPULUH SEBAB PENGHAPUS DOSA

1. Taubat Nasuha.

Yaitu taubat yang sebenar-benarnya taubat, maka ia (taubat nasuha)
dapat meleburkan dosa sebelumnya. Dan Allah Subhanahu Wata'ala Maha
menerima taubat hamba-hambaNya yang mau bertaubat kepadaNya.

Dan orang yang bertaubat dari segala dosa bagaikan orang yang tidak
memiliki dosa. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Dan
Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan
kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
asy-Syura: 25).

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman, artinya, “Orang-orang yang
mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman;
sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-A’raf: 153).

2. Beristighfar.

Yaitu memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Sesungguhnya
Allah akan mengampuni hamba-hambaNya yang meminta ampunan
(beristighfar) kepadaNya. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya,
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya,
kemudian mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa`: 110).

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman, artinya, “Dan Tidaklah (pula)
Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS.
al-Anfal: 33).

Begitu juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang
apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya, artinya, “Wahai anak cucu
Adam (manusia) seandainya dosa-dosamu setinggi awan di langit, lalu
kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu.”
(HR. at-Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman dalam hadits qudsi, artinya,
“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan (dosa)
di waktu malam dan siang hari, sedangkan Aku lah yang dapat mengampuni
semua dosa, maka mohon ampunlah kalian kepadaKu niscaya Aku akan
mengampuni dosa kalian.” (HR. Muslim).

3. Kebaikan-kebaikan menghapuskan dosa-dosa.

Seperti shalat, shadaqah, puasa, haji, membaca al-Qur`an, berdzikir
kepada Allah, berdo’a, beristighfar, berbakti kepada kedua orang tua,
menyambung silatur rahim, dan lain-lain. Allah Subhanahu Wata'ala
berfirman, artinya, “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi
siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa)
perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang
yang ingat.” (QS. Huud: 114).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Shalat-shalat yang
lima waktu, jum’at ke jum’at, ramadhan ke ramadhan dapat meleburkan
dosa diantara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhkan.” (HR.
Muslim).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda, “Dan ikutilah
perbuatan buruk/ kejahatan dengan perbuatan yang baik, niscaya dia
menghapuskannya.” (HR. at-Tirmidzi dan dia menghasankannya).

Sesungguhnya satu kebaikan dilipat gandakan balasannya sampai sepuluh
kali lipat, adapun keburukan akan dibalas yang serupa dengannya. Maka
celakalah bagi orang yang berguguran (kalah) satu persatu dari sepuluh
sebab tersebut.

4. Doa orang-orang yang beriman.

Maksudnya mereka memohon ampunan (kepada Allah, pen.) untuk orang yang
beriman (lainnya) baik ketika hidup maupun setelah mati dan khususnya
pada saat ketidak beradaannya (tanpa sepengetahuan orang yang
didoakan, pen.) dan begitu juga doanya atas saudara-saudaranya yang
telah meninggal dunia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak hadir (tanpa
sepengetahuannya, pen.) adalah mustajab, di samping kepalanya terdapat
malaikat, setiap dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat
yang diutus berkata, ‘Amin, dan bagimu sepertinya (seperti orang yang
didoakan, pen.).” (HR. Muslim).

5. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan/ diniatkan untuk si mayyit .
6. Syafa’at Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan selainnya.
7. Musibah-musibah.

Dengannya lah Allah Subhanahu Wata'ala menghapuskan dosa-dosa atau
kesalahan-kesalahan (yang dilakukan oleh hamba-hambaNya, pent.) di
dunia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ash-Shahihain,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam;bersabda, “Tidaklah orang yang
beriman ditimpa penyakit yang terus menerus dan tidak pula rasa cemas,
rasa sedih, rasa susah dan rasa sakit, sampai-sampai duri yang menusuk
kecuali Allah menghapuskan dengannya dari dosa-dosa/
kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
8. Apa yang didapatkan oleh seorang hamba ketika di dalam kubur.
9. Rasa takut, kesusahan serta kengerian terhadap kedahsyatan hari kiamat.

10. Rahmat Allah Subhanahu Wata'ala

Sesungguhnya karena rahmat Allah Subhanahu Wata'ala, semua hamba
mendapatkan maaf dan ampunanNya tanpa sebab, maka Dia lah yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang, sebagaimana Dia berfirman, artinya,
“Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu.” (QS.
an-Nisa`: 48 dan 116).

TUJUH KELEBIHAN DARI SABAR

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Negeri ini kembali berduka. Wasior diterjang banjir bandang. Mentawai disapu tsunami. Gunung Merapi memuntahkan kandungannya. Korban nyawa dan harta pun tak terhindarkan. Kita pun kembali menyadari betapa sangat lemah dan tak berdayanya diri ini di hadapan Sang Penguasa Kehidupan. Saudaraku, tidaklah suatu kejadian dialami manusia, kecuali semuanya sudah ditentukan Sang Maha Menakdirkan (QS al-Hadid [57]: 22). Sungguh, takdir Allah adalah takdir Allah. Kita tidak mungkin bisa menolaknya. Hanya kita memohon kepada-Nya, semoga diberi kekuatan dan kecerdasan dalam menyibak hikmah di balik bahasa takdir-Nya. Semoga kita termasuk golongan hamba-Nya yang bersabar dengan semua takdir-Nya. Bersabar dengan semua keadaan dan berbagai deret peristiwa mahapahit lainnya. Ketahuilah, inilah yang akan didapat oleh hamba-Nya yang mau bersabar.

Pertama, mendapatkan pahala surga dari Allah (baca: QS ar-Ra’d, [13]: 23 – 24). Anas bin Malik RA mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian dia bersabar, maka aku gantikan surga baginya’.” (HR Bukhari).

Kedua, sabar merupakan dhiya (cahaya yang amat terang). Dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, “… dan kesabaran merupakan cahaya yang terang.” (HR Muslim).

Ketiga, kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik.. “… dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih).

Keempat, kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang Mukmin. “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (mengetahui) bahwa hal itu memang baik baginya. Jika tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (mengetahui) bahwa hal itu baik baginya.” (HR Muslim).

Kelima, sabar merupakan sifat para nabi.

Keenam, kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah menggambarkannya dalam sebuah hadis, “Tidaklah seorang Muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, marabahaya, dan juga kesusahan hingga duri menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, kesabaran merupakan sebuah keniscayaan. Seseorang tak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa, hendaklah ia berdoa kepada-Nya agar memberikan yang terbaik baginya: apakah kehidupan atau kematian. “Janganlah salah seorang di antara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Sekiranya, ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, ‘Ya, Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku. Wafatkanlah aku sekiranya itu lebih baik bagiku’.” (HR Bukhari Muslim). Demikianlah keutamaan bagi orang-orang yang sabar. Wallahu a’lam.